Inokoshi Incineration Plant adalah tempat pengolahan sampah merah di Nagoya.
Memangnya ada kategori sampah ya??
Iya, di Nagoya, sejak secara garis besar sampah dikategorikan menjadi (1) sampah yang bisa dibakar, (2) sampah plasti/kertas yang bisa di daur ulang, dan (3) sampah yang tidak masuk kedua kategori itu. Secara lebih spresifik bisa dibaca di: http://www.nic-nagoya.or.jp/en/e/archives/2985
Hari Kamis, 28 Juli 2011, Bhinneka bersama PPI via Graduate School of Environmental Studies Nagoya Un, berkesempatan untuk mengunjungi Inokoshi Incineration Plant, yang terletak di Chikusa-Ku. Sebagian besar berangkat bersama-sama dari kampus Meidai menggunakan subway hingga Chayagasaka, lalu naik bis jurusan Hikiyama(引山)dari terminal bus no 3. Ada juga yang menggunakan sepeda maupun mobil.
Dari dalam bus, kami mulai bisa menemukan banyak truk sampah. Kami tiba di lokasi sebelum jam 10. Bangunannya terletak di sisi sungai dan di daerah ramai: ada mall Apita, banyak pertokoan serta perumahan di sekitarnya.
Bau sesekali tercium pada saat truk sampah lewat, itu pun bias saja. Bangunannya cukup megah, ada yang berpendapat bangunannya seperti rumah sakit
Memasuki gedung, kami disambut oleh Bapak Kobayashi dan Bapak Nakanishi, yang merupakan pemandu kami hari ini. Kami diajak ke sebuah ruang seminar, lalu menonton video pengolahan sampah merah di Nagoya. Video ini mengenalkan inokoshi incineration plant, serta menerangkan bagaimana sampah merah diolah. Setelah menonton video, kami diajak keliling.
Rupanya tempat ini adalah salah satu dari 4 tempat pengolahan sampah merah di Nagoya. Diperlukan 5 tahun untuk membangun 1 incineration, dengan memakan biaya 3 trilliun Yen, atau sekitar 300 trillun Rupiah. Selanjutnya diperlukan maintenance setiap 4 bulan sekali, dimana 1 kali maintenance memakan waktu 1 bulan. Ke-4 incineration akan bekerja sama, untuk beroperasi secara bergilir. 1 incineration maintenance, dan 3 incineration bekerja. Dananya semua dari pemerintah Nagoya!
Lalu, bagaimana pengolahan sampah di Nagoya?
Sampah dari setiap area akan diangkut oleh truk sampah 1 minggu 2 kali.
Ketika truk pengangkut sampah yang masuk tempat pengolahan, pertama-tama setiap truk akan ditimbang, lalu melewati gerbang dengan filter bau. Tujuannya agar bau dari dalam inceneration tidak sampe keluar. Hebat ya, bekerja sempurna, ngga keluar bau sampahnya
Di situ truk sampah akan memasuki hall besar, dimana sudah di-desain adanya beberapa pintu, untuk pembuangan akhir sampah. Sesudah sampah seluruhnya dibuang ke pembuangan akhir, truk akan keluar melalui gerbang berfilter lagi, lalu disemprot dan dicuci. Pantesan truk sampah di Nagoya bersih-bersih.

3 truk di kiri parkir mundur untuk membuang sampah dari dalam truk ke tempat penampungan sampah. 1 truk di atas sedang melewati gerbang dengan filter bau
Mereka juga mendesain “pengusir” burung, biar sampah ngga sampai di-acak-acak burung.
Tempat akhir pembuangan sampah berdimensi cukup besar dan dalam, yakni hingga 30 meter, yang biasa terisi hingga 20 meter, seperti hari saat kunjungan. Tempat ini biasa menampung 600 ton sampah per hari, yang merupakan akumulasi sampah rumah tangga selama 4 hari.

Tempat pembuangan dalam keadaan kosong. lubang-lubang di sebelah kanan adalah lubang pembuangan dari truk sampah, langsung ke tempat akhir ini.
Sampah ini lalu akan diaduk-aduk oleh 2 buah crane, masing-masing berdiameter 6 meter.
Sekilas, alas tungkunya seperti genteng
alas tungku ini didesain bisa bergerak maju mundur, seolah-olah untuk mengaduk sampah yang sedang dibakar diatasnya. Dibawah “genteng merah” ini diletakkan metal penghantar panas. Api akan diinisiasi dari gas, yang lalu setelah api nyala, gas akan dimatikan, dan api yang tercipta akan terus menyala dari sampahnya sendiri, ditambah deri bahan-bahan penghantar panas di dasar sampahnya sehingga dapat bertahan hingga 4 bulan. Suhu pembakaran berkisar 850-900 derajat celcius, yang dapat membakar sampah rumah tangga, hingga plastik dan aluminium. Bahan besai/metal tidak dapat terbakar. Sampah yang sudah terbakar sempurna akan menjadi abu, dan abu ini aka berjatuhan di sisi kanan bawah dari tungku ini.
Abu hasil pembakaran masih mengandung dioksin dan zat-zat beracun, sehingga masih perlu diproses di tahap berikutnya. Setelah bersih dari zat beracun, abu akan dikirim ke Incineration di Narumi, untuk diolah menjadi “Slag/スラグ” Kebanyak slag ini digunakan untuk reklamasi daerah pantai. Slag juga bisa dimanfaatkan untuk “tanah” tanaman.
Uap dari pembakaran sampahnya gimana?
Ada yang dibakar, artinya ada asap. Tapi sama sekali tidak terlihat asap pembakaran itu. Bagiamana caranya? Rupanya, asap dari pembakaran akan sepenuhnya difilter, untuk mengunci zat-zat berbahaya seperti dioksin dan kawan-kawannya jangan sampe lolos keluar. Di bagian atas, akan didesain pipa khusus yang tersambung ke pembangkit tenaga uap, sehingga bisa menghasilkan listrik. Cerdas sekali!
Semua proses dan semua kandungan zat kimia dipantau dengan ketat di ruang observasi, secara real-time. Di ruang observasi, juga ada angka indikasi berapa daya listrik yang dihasilkan (di foto ini 10ribu KW), daya listrik yang dijual (5rb KW di foto), serta daya listrik yang dibeli/yang incineration paka dari PLTN kota (0 dalam foto ini)
Untuk melaksanakan semua pekerjaan ini, pengolahan sampah berkerja selama 24 jam!! Jumlah staffnya 65 org. 36 org diantaranya bekerja dengan sistem shift untuk mengelola fasilitas selama 24 jam. Supir truk tidak termasuk staff. Truk dan supirnya adalah dari pihak luar.. Truk sampah sendiri bukan dimiliki incineration, melainkan milik pemerintah/ swasta.
Ini diagram pengolahan sampahnya:
Selesai tour, semua kembali ke ruangan seminar, lalu diadakan sesi tanya jawab. Kebanyakan sudah bertanya selama tour
Dari siswa Bhinneka, ada 1 pertanyaan dari Keiko “Dari sampah, bisa jadi tanah?”
katanya nanti kelas 4 SD ada pelajaran mengenai sampah, juga kunjungan ke pengolahan sampah.
Kunjungan ini ditutup dengan foto bersama.
Referensi:
Terjemahan panduan video, oleh Rini-Inu-Ogi
Tulisan Pak Erwin Kurniawan (http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150234896041911)
Pamflet:
Bacaan pendukung: http://rennynurhasana.multiply.com/journal/item/39/Kemana_Sampah_Merah_Kita_Diangkut
Terimakasih kepada:
Pak Slamet dan Renny yang menginisiasi ide kunjungan ini pasca DISAMBAL edisi pengolahan sampah, dan follow-up yang cekatan dari Renny.
Rizki dan Mba Icha yang merealisasi ide ini,
Mba Kiki yang bolak-balik nelp ke Inokoshi,
Rini-Inu-Ogi yang dah nerjemahin panduan video giri-giri waktunya,
Renny, Mba Kiki dan Mas Teguh yang mencarikan info akses,
Pa Imam yang jadi penerjemah di tempat, plus Mas Teguh dan Mas Slamet.
Semua yang turut hadir hari ini, *plus ketepatan waktunya, makasih bangetttt!!!,
Semua yang ngasih masukan tapi tak bisa hadir.
——————————-
Foto: Rahma Endra
Ditulis oleh: Rahma Endra




















hebat… mudah2an bisa ditiru di Indonesia
amiinnn.. makasih dah baca Mba Dev ^o^